|
YCMF
2008 memang sudah berakhir pada peringatan Sumpah Pemuda 2008
kemarin, dan sepertinya hampir semua setuju bahwa catatan ini
sudah sedikit terlambat diterbitkan, bila tidak bisa dibilang
basi, hehe. Namun bukankah lebih baik terlambat daripada tidak
sama sekali? Memang ada banyak energi yang masih tersisa jika
saya menulisnya tidak lama berselang dari berakhirnya pesta
kebudayaan musik baru terbesar tahun 2008 ini di Yogyakarta.
Jerih payah para panitia memang membuahkan hasil, dan setiap
tahunnya sejak tahun 2004 dan makin menularkan ketertarikan
akan musik baru kepada masyarakat sekitarnya. Tidak hanya kepada
masyarakat awam, namun juga kepada para musisi senior Yogyakarta,
yang kini punya "mainan baru" dan dengan senang hati
kami pun menyambut makin ramainya panggung musik baru dengan
komponis-komponis dan para musisi dari kalangan muda dan tak
terlalu muda di Indonesia.
Telah cukup lama musik serius ini menjadi musik yang sedikit
marjinal dan hanya memiliki komunitas kecil yang mendukungnya.
Dan kini sudah saatnya generasi yang lebih muda melanjutkan
peran yang telah dijalani oleh para komponis musik baru seperti
Slamet Abdul Sjukur, Suka Hardjana, Franky Raden, Sapto Raharjo,
Otto Sidharta, Tony Prabowo, Fahmi Alatas, Michael Asmara, I
Wayan Sadra dan kawan-kawan seperjuangannya. Sejak tahun 1980an
telah dimulai rangkaian festival Pekan Komponis Muda yang telah
menandai jejaknya dalam sejarah penciptaan musik baru di negeri
ini dengan aneka reaksi dari masyarakat yang mengalami pertemuan
itu.
Memang sedikit berbeda perjuangan yang harus ditempuh para
seniman bunyi ini bila dibandingkan dengan para seniman rupa.
Tantangan yang harus mereka hadapi adalah suatu kebiasaan yang
telah membudaya dalam masyarakat, yakni kesediaan untuk mendengarkan
dengan seksama tanpa pretensi yang sangat jarang ada pada kebanyakan
dari kita. Karena lain dengan objek seni rupa yang dapat dinikmati
tanpa batas waktu, suatu karya musik terbatas dengan ke-saat-an.
Saat yang telah berganti, bergeser ataupun berlalu akan mengubah
pula isi yang terkandung di dalam suatu karya komposisi musik
(dan komposisi bunyi).
Apa
yang terjadi pada YCMF yang lalu adalah sesuatu yang membangkitkan
kembali gelora semangat itu pada para seniman bunyi ini, khususnya
kami generasi muda. Dengan kesadaran bahwa suatu karya tidak
akan berhenti di atas kertas, maka masing-masing dari kami pun
saling mendukung untuk membawa ide-ide itu ke atas panggung
pertunjukkan. Di sana lah tantangan bagi segala pihak: komponis,
para penampil, pendengar, penonton dan pengamat dimulai. Dan
tantangan itu terjawab dengan hasil yang beragam. Ada kepuasan,
ada kekecewaan, ada rasa ingin tahu, ada ketidaksukaan, ada
kegembiraan, semua dapat terjadi dalam satu festival yang sama.
Namun apa yang lebih bermakna daripada itu semua adalah bahwa
sejarah tengah berlangsung saat ini, dan setiap orang yang ingin
terus terlibat di dalamnya tidak bisa tinggal diam untuk menanti
kawannya berbuat sesuatu. Semua harus merasa dirinya terpanggil
untuk berbuat musik! Semua harus terus mengobarkan semangat!
Jika tidak, maka tidak akan ada bedanya dengan festival serupa
yang pernah berulang kali diadakan tapi tanpa hasil yang berarti
sama sekali dan tanpa menimbulkan akibat apapun bagi para komponis,
musisi dan penonton yang terlibat di dalamnya.
Dan perayaan ini tidak berhenti di sini, perayaan ini akan
terus berlangsung dan memperluas ruang lingkupnya, ruang dengarnya,
jangkauannya. Maju terus masyarakat musik baru Indonesia! Maju
terus para komponis muda Indonesia!
- Andreas Arianto Yanuar
Related Links
16 Nov 08
|